Meja Makan Persaudaraan (Oleh Pdt. A. E. Kofit, M.Si)

July 24, 2018 11:20 am

Kesekian kalinya saya mengikuti acara makan bersama di Raksi. Raksi (dialeg orang Lakor) atau Raski (dalam dialeg orang Letti dan Moa) yang mengandung arti maikan di Meja Daun. Ada dua jenis Raksi, yakni Raksi panjang seperti ini meja daun yang letakan langsung di atas tanah dan Raksi popokli atau makan di atas meja. Raksi makan di atas meja itu versi Timor leste. sesuai tradisi, makan di meja raksi tradisi biasanya digelar pada acara syukuran bangun rumah, acara denda adat, acara pengukuhan raja atau kepala desa, pengukuhan saniri, acara resepsi pernikahan, dan pada acara resepsi lainnya. Salah satunya pada tahun ini, di gelar bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Maluku Barat Daya yang ke-10. Mungkin orang akan menyamakan Raksi dengan “Tradisi Makan Patita” yang di praktekkan di Ambon dan Maluku Tengah. Tetapi sesungguhnya, Raksi merupakan produk budaya Maluku Barat Daya yang autentik dan original. Jauh sebelum masuk agama di Maluku Barat Daya khususnya di Letti Moa Lakor, para leluhur telah menerapkan makan bersama (Raksi) layaknya perjamuan kudus yang dilakukan Yesus dan para Murid. Pada meja ada berkat makanan dan nasihat.

Berbagai jenis olahan daging kerbau, sapi atau kambing (bakar,goreng atau rebus) wajib tersaji diatas Raksi. Orang- orang di Maluku Barat Daya umumnya tidak mungkin makan di Raksi tanpa sepotong daging kerbau,daging kambing,daging sapi. Daging kerbau, daging sapi, daging kambing di meja Raksi merupakan makanan tradisi yang sudah diwariskan dari masa ke masa. Itulah sebabnya menjadi aneh jika menyajikan Soup asparagus, Cap Cay, Puyung Hai, Hamburger, Dll, tanpa daging kerbau, atau daging sapi atau daging kambing.
Sudah beberapa kali saya menyaksikan dan turut serta dalam acara makan di meja Raksi, belum pernah saya melihat orang makan tanpa daging kerbau, sapi atau kambing. Saya pernah bertanya mengapa harus daging kerbau dan daging sapi juga daging kambing? ada yang menjawab ini soal martabat dan harga diri. Jadi ada hubungan yang erta antara makanan dan budaya setempat. Makan di Raksi tanpa daging kerbau, daging sapi serta daging kambing terasa hambar maknanya karena bagi masyarakat di Maluku Barat Daya, makanan jenis ini bukan hanya makanan semata. Ia adalah sebuah filsafat kebudayaan. Artinya, makanan jauh lebih dari sekedar di makan untuk kenyang atau untuk bertahan hidup. Sebab kalau makan untuk kenyang baiaknya makan di rumah saja.Dirumah bisa makan apa saja yang bergizi sesuai selera. makanan jauh lebih dari sekedar zat bergizi yang menjaga kethanan hidup. Tetapi makanan adalah tanda yang di susupi makna.
Dalam pandangan orang-orang di Maluku Barat Daya, duduk di meja Raksi bukan karena makanan dan minuman. tetapi soal persekutuan, soal persaudaraan, soal berta sama dipikul ringan sama di jinjin. Dalam lingkungan sosial budaya setempat, makan makanan di Raksi memperoleh signifikansi yang melampaui demi untuk bertahan hidup dan mempengaruhi persepsi atas bisa tidaknya sesuatu bisa dimakan. Itulah  sebabnya makanan yang tersaji dimeja Raksi adalah makanan yang dijadikan sebagai tradisi simbolis. Tradisi simbolis itu adalah momentum untuk saling mengingatkan dan menasehati untuk membangun persaudaraan. Semua yang duduk dimeja Raksi tidak dibeda-bedakan. Tidak ada orang kaya atau miskin, tidak kenal orang besar atau kecil. Tidak pandang suku, tidak pandang agama. Pada konteks yang lebih besar, duduk dimeja Raksi kita tidak lihat bahwa ini orang Moa, ini orang Marsela, ini orang Kisar, ini orang Babar, ini orang Wetar atau ini orang Damer. Semua duduk sama tinggi dan sama rendah dimeja Raksi.
Kita semua orang basudara dimeja Raksi. Ini menjdi tanda agar dalam membangun Maluku Barat Daya tidak pandang bulu dalam melayani masyarakat dan antar sesama manusia menjujung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan. Ritus makan diatas Raksi menjadi media bagi orang Maluku Barat Daya untuk mengkukuhkan persekutuan dan persatuan. Persekutuan yang mencerminkan kasih sayang, laeng sayang laeng, bukan laeng bikin susah laeng. Laeng hargai laeng, bukan laeng hantam laeng. Kalau laeng baku hantam dengan yang laeng nanti Maluku Barat Daya tidak akan maju-maju. Dengan spirit Meja Raksi, meja persaudaraan, kita terus berkarya dan membangun Maluku Barat Daya yang lebih baik.

Bagikan artikel ke :