PELANTIKAN KEPALA DESA LETODA DAN LOLOTUARA KECAMATAN LAKOR OLEH BUPATI MALUKU BARAT DAYA DRS.BARNABAS N. ORNO

February 7, 2019 3:01 am

Pelantikan Kepala Desa Letoda dan Kepala Desa Lolotuara di Pulau Lakor yang berlangsung pada 01 Februari 2019 dihadiri oleh Bupati, Sekretaris Daerah, Pimpinan OPD, Para Asisten, Staf Ahli, Kepala Desa Luang Timur, Lurah Tiakur, Camat Lakor, kepala desa dari desa-desa tetangga di Pulau Lakor, para tokoh agama di Pulau Lakor dan masyarakat Desa Letoda, Lolotuara, Dusun Letwaru, Dusun Werwawan serta beberapa desa tetangga di Pulau Lakor. Sarjon Udimera adalah Kepala desa terpilih Desa Letoda yang ke 12 dan David Tiau adalah kepala desa terpilih Desa Lolotuara yang ke 15.

Penyambutan Rombongan Bupati di pintu masuk Desa Letoda diiringi dengan pantun adat dan tarian seka oleh masyarakat Desa Letoda. Pada acara pelantikan kedua kepala desa yakni Kepala Desa Letoda dan Kepala Desa Lolotuara, Bupati Maluku Barat Daya Drs. Barnabas N. Orno dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada kedua kepala desa yang telah dilantik dan menghimbau kepada masyarakat Maluku Barat Daya khususnya masyarakat Pulau Lakor agar melestarikan budaya dan adat istiadat di Maluku Barat Daya, sehingga tercermin bahwa masyarakat Maluku Barat Daya adalah masyarakat yang berbudaya dan masih mempertahankan adat istiadatnya serta tempat-tempat bersejarahnya seperti halnya pada Desa Lolotuara di Pulau Lakor yang masih menjaga keutuhan dewalanya ( susunan batu berbentuk tembok atau kapal dan sebagainya ) sampai sekarang. Bupati Maluku Barat Daya juga menghimbau kepada seluruh kepala desa yang hadir pada saat itu agar tidak menggunakan jabatan kepala desanya untuk melakukan tindakan sewenang-wenang atau berkuasa dan menindas rakyat tetapi gunakanlah jabatan itu untuk melayani masyarakat dan menyatukan perbedaan yang ada di dalam masyarakat. Beliau (bupati) ingin supaya seluruh kepala desa yang ada di Maluku Barat Daya ini tidak selalu berharap dan menerima bantuan Beras Miskin (RASKIN) karena akan memanjakan masyarakat untuk tidak mengkonsumsi makanan lokal dan juga menjadikan masyarakat menjadi malas untuk berkebun. Padahal makanan pokok Maluku Barat Daya lebih bermanfaat dan mengandung gizi daripada harus mengkonsumi makanan Raskin yang pada dasarnya beras ini digunakan untuk makanan hewan.


Bagikan artikel ke :