Siapkan SDM Sambut Blok Masela

July 5, 2017 6:41 am

KABARTIMUR.co.id, AMBON – Tahun 2028 Blok minyak dan gas (Migas) Masela sudah mulai produksi. Tersisa 11 tahun bagi Pemerintah Provinsi Maluku menyiapkan menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) guna menjemput produksi Blok Masela tahun 2028 mendatang.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Prof. DR. John Pieris meminta Pemda Maluku maupun pemerintah kabupaten agar fokus menyiapkan SDM.

Pemda dan pemkab jangan terjebak dengan adanya wacana saat ini untuk mengkaji ulang keputusan pemerintah pusat yang sudah final menetapkan pengelolaan gas abadi Blok Masela di darat atau onshore, bukan di laut atau offshore.

Inpex dan Shell selaku investor Blok Masela di Maluku harus patuh dengan keputusan Presiden Joko Widodo yang memutuskan skema pengolahan gas Blok Masela dilakukan di darat.

“Tahun 2028 Blok Masela sudah produksi, artinya waktu kita untuk siapkan sumber daya manusia hanya tersisa 11 tahun. Pemda harus fokus untuk itu, jangan lagi kita wacanakan soal onshore atau offshore, keputusan sekarang itu sudah tepat dan menguntungkan masyarakat kita,” kata Pieris di Ambon, Senin (10/4).

Senator dua periode daerah pemilihan Maluku ini menyatakan, jika paradigma masyarakat kembali dibangun untuk mengkaji ulang keputusan pemerintah pusat, akan berdampak buruk terhadap masa depan pembangunan di Maluku serta menghambat iklim investasi.

Skema pengeolahan di darat tegas dia, telah melalui tahapan pengkajian yang matang. Perjuangan agar keputusan ini dieksekusi pemerintah pusat juga melalui jalan panjang yang menyita waktu semua pihak.

“Saya dan teman-teman anggota DPD RI lainnya dan Ibu Mercy Barens (anggota DPRRI) ikut menegaskan sikap pengelolaan Blok Masela menggunakan skema onshore,” tegas Pieris sambil kembali mengingatkan langkah terpenting yang harus diambil Pemprov Maluku dan Pemkab saat ini, adalah menyiapkan SDM.

Menurutnya, polemik antara tiga kabupaten di Maluku soal lahan yang akan digunakan untuk pengelolaan dan produksi gas tidak ada lagi. Yang terpenting, harus melihat ekplorasi Blok Masela, agar dapat membawa dampak ekonomi yang cukup signifikan bagi masyarakat di Kabupaten Maluku Barat Daya, Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Kabupaten Aru.

Tiga kabupaten ini di mana Blok Masela berada harus merasakan dampak secara langsung. “Perebutan soal lokasi itu memang penting, tetapi harus ada pertimbangan rasional, kira-kira lokasi mana yang dekat dengan sumur blok itu. Bagi saya bukan soal di MTB, MBD atau di Aru tetapi bagaimana setelah diekplorasi masyarakat di tiga kabupaten itu harus mendapat keuntungan yang lebih besar, dari sisi ekonomi sehingga kesejahteraan mereka meningkat,” harapnya.

Selain itu, waktu 11 tahun, Pemprov Maluku dan tiga kabupaten tersebut harus bisa menyiapkan SDM masing-masing. Pemerintah daerah juga diingatkan tidak perlu menyekolahkan banyak tenaga doktor untuk memenuhi kuota Blok Masela. Terpenting adalah melatih genersi muda Maluku agar bisa menjadi tenaga-tenaga yang siap pakai di Blok Masela.

“Untuk itu SDM harus kita siapkan yang kelas menengah ke bawah, jangan kita bicarakan insinyur, magister dan doktor itu terlalu jauh. 11 tahun dari sekarang kalau mulai kita siapkan tenaga kelas menengah ke bawah. Tahun 2028 pasti sudah ada 500 SDM Maluku memiliki skill dan siap pakai, siap bekerja. Konsen kita arahkan ke sana,” jelas Pieris


Bagikan artikel ke :