Bupati MBD : “Saya tidak akan berbisnis supaya rakyat bisa berbisnis”.

July 20, 2019 4:33 am

Tiakur, malukubaratdayakab.go.id – hal ini disampaikan oleh Bupati Maluku Barat Daya (MBD) Benyamin Th. Noach, S.T sebagai bentuk keprihatinannya tentang kondisi MBD yang dicap sebagai salah satu penyumbang angka kemiskinan tertinggi di Maluku, “selama saya jadi Bupati MBD, saya tidak akan berdagang, saya tidak akan berbisnis supaya rakyat bisa berbisnis, bisa berdagang, kalo rakyat berbisnis, rakyatnya kaya, maka jumlah orang miskin juga berkurang di MBD,……coba bayangkan, misalnya, kalau ada rakyat mau jualan solar, lalu Bupatinya juga mau jualan solar, ya pasti, rakyatnya tidak dapat izin, karena Bupatinya juga mau, kan ijinnya dari Bupati, akhirnya, Bupatinya kaya, rakyatnya miskin ….. saya tidak seperti itu, kita harus fair, berlaku adil, karena itu, saya tegaskan sekali lagi, sebagai Bupati, saya adalah pelayan masyarakat, jadi selama saya menjadi Bupati MBD, saya tidak akan pernah berbisnis apapun di MBD”, demikian diungkapkan oleh Noach, Bupati MBD, di hadapan warga  masyarakat Kecamatan Letti pada kunjungan kerja beberapa hari lalu.

Meskipun indikator kemiskinan itu sendiri masih dapat diperdebatkan, tapi faktanya di atas kertas, Kabupaten MBD merupakan salah satu penyumbang angka kemiskinan yang cukup besar di Maluku dari 11 kabupaten/kota dengan persentase kurang lebih 30%.

Menurut Bupati MBD, kita harus berikan peluang dan kesempatan yang seluas luasnya kepada masyarakat untuk berwirausaha di sektor swasta yang mampu menciptakan lapangan kerja baru sehingga  berkontribusi mengurangi angka kemiskinan di MBD, dan kita juga harus mendidik masyarakat kita merubah sikap mental mereka agar tidak semata mata bercita cita menjadi PNS.

Lebih lanjut, Bupati mengatakan “Saya kalau ikut kegiatan atau rapat di Provinsi, di Ambon, saya malu sekali, karena MBD dikatakan miskin, penyumbang angka kemiskikan di Maluku, setelah saya cek datanya, saya bandingkan, ternyata angka kemiskinan di MBD kurang lebih sama dengan angka penerima raskin (beras miskin). Karena itu, kita harus dorong masyarakat agar giat mengkonsumsi pangan lokal misalnya jagung, supaya masyarakat tidak bergantung sama beras raskin, beras yang kualitasnya rendah” demikian kata Bupati.


Bagikan artikel ke :