Hadiri Peringatan 100 Tahun Injil masuk Negeri Lawawang, Bupati MBD tindak lanjuti keluhan masyarakat tentang kesulitan air di Pulau Masela. Benyamin Th. Noach : “Semoga Tuhan memberi petunjuk agar kita mampu selesaikan persoalan kesulitan air di Pulau Masela ini”.

November 7, 2019 12:24 am

Tiakur, malukubaratdayakab.go.id. Tepat 100 tahun yang lalu, pada hari Minggu,    1 Nopember 1919, seorang Pendeta GPM (Gereja Protestan Maluku) dari Ambon,    Pdt. Jacob Laisina melaksanakan Baptisan kedua terhadap 72 orang warga Negeri Lawawang Pulau Masela. Sebelumnya Pdt. Jacob Laisina melaksanakan Baptisan pertama pada Jumat, 15 Mei 1919 terhadap 52 orang warga Negeri Lawawang.

Demikian gambaran singkat yang dapat kita baca pada tugu peringatan injil masuk Negeri Lawawang, Kecamatan Pulau Masela, yang berdiri kokoh di tengah negeri. Leluhur Moyang bernama Waremna dan keluarganya adalah yang pertama menerima air Baptisan di Lawawang yang selanjutnya diikuti oleh warga lainnya yang menyatakan sikap mengikut Yesus dan melepaskan penyembahan berhala kala itu.

Menurut Bupati MBD, Benyamin Th. Noach, S.T. “Itu adalah suatu sikap yang berani, langkah luar biasa yang ditunjukan oleh leluhur, sikap seorang kesatria pada masa itu”.

1 Nopember 2019, atau tepatnya 100 tahun Baptisan kedua, Bupati MBD (Maluku Barat Daya), Benyamin Th. Noach, S.T, didampingi Ketua TP.PKK Kabupaten MBD, Ny. Rely Noach, bersama rombongan, hadir di Negeri Lawawang,  Kecamatan Pulau Masela, untuk mengambil bagian bersama masyarakat dalam rangka  peringatan  100 tahun masuknya injil. Kedatangan Bupati dan rombongan tentu saja disambut secara adat dan budaya orang MBD.

Bupati MBD, Benyamin Th. Noach bersama warga di Desa Lawawang, Pulau Masela

Masyarakat Negeri Lawawang yang mengambil bagian dalam peringatan ini bukan saja yang menetap di Lawawang Pulau Masela, tapi juga anak cucu asal Desa Lawawang yang datang dari rantau misalnya dari Dobo, Papua, Ambon, Labuha, Jakarta dan kota lainnya di tanah air.

Acara peringatan dipusatkan di Gereja GPM Jemaat Imanuel Lawawang yang dimulai dengan ibadah syukur dipimpin oleh Sekretaris Klasis PP. Babar Timur, Pdt. O.R. Maskikit, S.Th. dilanjutkan dengan acara seremonial.

Dalam sambutannya, Ketua Klasis PP. Babar Timur yang diwakili oleh Sekretaris Klasis, Pdt. O.R. Maskikit, S.Th, selain memberikan gambaran umum tentang Klasis PP. Babar Timur, juga memaparkan kepada Bupati MBD tentang harapan dan kesulitan jemaat di Pulau Masela, antara lain utamanya kesulitan air tawar, keterbatasan tenaga dan infrastruktur pendidikan maupun kesehatan.

Perayaan ini semestinya dilaksanakan pada bulan Mei, tepatnya 15 Mei sebagai tanggal dilakukan Baptisan pertama, namun dengan berbagai pertimbangan antara lain perihal Tahun Ajaran anak sekolah, dan juga kondisi laut yang menjadi pertimbangan utama sehingga perayaan ini dilaksanakan pada pada  1 Nopember, demikian dijelaskan Pdt. Maskikit.

Maskikit juga menghimbau kepada para jemaat agar makna peringatan ini, bukan saja dijadikan acara kumpul kumpul atau pelepas rindu keluarga tetapi lebih daripada itu, bagaimana menikmati anugerah Allah yang telah memampukan kita agar saling menasehati seorang dengan yang lain.

“Sebagai Gereja, kami merasa bangga dan berterima kasih atas kehadiran Bapak Bupati beserta Ibu dan rombongan dalam perayaan 100 tahun Injil Masuk Lawawang, kami menyadari peran pemerintah terhadap tugas gereja menjadi sangat penting”, kata Maskikit dalam sambutannya mengapresiasi kehadiran Bupati dan rombongan.

Sejalan dengan Pdt. Maskikit, Bupati MBD dalam sambutannya menegaskan,  “Kehadiran saya menandakan paling sedikit 2 hal, saya hadir di Desa Lawawang untuk peringatan ini, untuk menegaskan bahwa gereja dan pemerintah daerah tidak boleh dipisahkan, kita bersama sama bekerja untuk sebesar besarnya kesejahteraan rakyat MBD, untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat MBD, untuk mendapatkan manusia MBD  yang berkualitas yang bertaqwa kepada Tuhan”.

Lanjut Bupati, “Yang kedua, saya hadir di sini untuk menegaskan bahwa saya bukan Bupati Tiakur, bukan Bupati Kisar, bukan Bupati sekelompok orang, tapi saya adalah Bupati Maluku Barat Daya, Saya khawatir nanti ada yang bilang, Bupati tidak datang di Masela karena dia bukan orang Masela, tidak demikian, saya Bupati Maluku Barat Daya”, kata Bupati.

Menjawab harapan dan kesulitan warga utamanya tentang kesulitan air bersih atau air tawar di Pulau Masela, Bupati segera menyampaikan instruksi secara langsung kepada Kepala PDAM MBD yang juga turut hadir alam acara ini, agar tetap tinggal di Masela untuk  mencari titik air.

“Saya besok harus kembali ke Tiakur untuk pembahasan APBD 2020 agar rampung sebelum pelantikan anggota DPRD Kabupaten MBD tanggal 12 Nopember nanti supaya kita tidak terkena punishment, tapi Saya sudah instruksikan Kepala PDAM jangan kembali ke Tiakur,  harus keliling Pulau Masela untuk cek titik air ada di mana,  supaya suatu ketika nanti Masela tidak kekurangan air, kita akan cari jalan untuk itu, saya dapat informasi ada beberapa titik air, semoga Tuhan memberi petunjuk agar kita mampu selesaikan persoalan kesulitan air di Pulau Masela ini” jawab Bupati.

 

Bupati juga mengajak masyarakat agar bekerja sama dengan pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan dengan cara  meningkatkan produktivitas, tidak semata mengharapkan bantuan tanpa memperlabakan bantuan itu.

“Saya percaya setelah perayaan 100 tahun ini, muncul Waremna Waremna baru yang mampu menerobos, tampil sebagai seorang kesatria yang berani mengambil langkah langkah untuk maju, untuk sejahtera, untuk menjadi orang orang yang cerdas, orang orang yang unggul, yang tidak boleh lagi dicap sebagai masyarakat yang miskin” ucap Bupati di akhir sambutannya.

Acara peringatan ini, diakhiri dengan penandatanganan prasasti Monument 100 tahun injil masuk Lawawang oleh Bupati MBD, Benyamin Th, Noach yang disaksikan oleh segenap jemaat, tokoh agama dan masyakarakat serta undangan yang hadir di depan gedung gereja Imanuel jemaat Lawawang.

Tampak hadir dalam acara ini, Ketua TP. PKK Kabupaten MBD, Ny. Rely Noach, Pimpinan OPD, Pejabat TNI/Polri, Camat Marsela, para Kepala Desa beserta jajarannya, Panitia Acara, ASN, tokoh masyarakat dan agama, jemaat GPM Imanuel Lawawang, warga asal Lawawang dari rantau, serta undangan lainnya. (diskominfo-mbd)

 


Bagikan artikel ke :